Berbagi

Ahlu Sunnah wal Jama'ah

Aqidah Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqofi

4 Komentar

Aqidah Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqofi

(149 s/d 240 H)

Abu Ahmad al Haakim[1] rahimahulloh berkata : Aku mendengar Muhammad bin Ishaq Ats Tsaqofi[2] berkata : Aku mendengar Abu Rajaa Qutaibah bin Sa’id berkata :

 Ini merupakan pendapat para imam yang dikagumi dalam Islam dan Sunnah[3] :

  1. Ridho dengan ketentuan Alloh dan berserah diri pada ketetapannya, bersabar atas keputusannya, serta beriman dengan qodar; yang baik dan yang buruknya.
  2. Berpegang dengan seluruh perintah Alloh ‘Azza wa Jalla, dan dengan larangan yang Alloh melarang darinya.
  3. Ikhlas beramal kepada Alloh.
  4. Meninggalkan perselisihan, perdebatan dan permusuhan dalam agama.
  5. Mengusap khuf[4].
  6. Jihad bersama seluruh pemimpin, jihad memerangi orang kafir, bagimu jihadnya dan bagi mereka kejelekannya[5].
  7. Shalat berjama’ah bersama pemimpin yang baik dan pendosa – yakni jum’ah dan ‘idain –, serta menshalati orang yang meninggal dunia dari ahli qiblat merupakan sunnah[6].
  8. Iman itu perkataan dan perbuatan, dan iman itu bertingkat-tingkat.
  9. Al Qur’an merupakan perkataan Alloh ‘Azza wa Jalla.
  10. Tidak mempersaksikan seorang pun dari ahli qiblat dengan surga dan neraka, dan tidak memastikan dengan syahid pada seorang pun dari ahli tauhid, walaupun beramal amalan (shaleh -penj) yang besar. Dan tidak mengkafirkan seorang pun disebabkan dosa kecuali meninggalkan shalat, walaupn beramal dengan amalan (maksiat –penj) yang besar.
  11. Kita tidak boleh memberontak pada para pemimpin dengan pedang walau pun mereka orang-orang yang fajir, dan kami berlepas diri dari setiap manusia yang berpendapat bolehnya mengangkat senjata (melegalkan pemberontakan) di tengah-tengah kaum muslimin, siapapun dan bagimana dia.
  12. Umat paling utama setelah nabinya Abu Bakar, kemudian Utsman.
  13. Menjaga diri dari membicarakan ketidakpatutan para sahabat Muhammad r, dan tidak menyebut salah seorang dari mereka dengan kejelakan, serta tidak mencacati seorang pun dari mereka.
  14. Kami beriman dengan ru-yah (tentang melihat Alloh Ta’ala) serta mempercayai bahwa seluruh hadis yang telah valid dari Rasululloh r tentang ru-yah adalah hak/benar.
  15. Mengikuti seluruh jejak (atsar) yang telah abash dari Rasulullah r, kecuali bila diketahui bahwa ia mansukh maka diikuti nasikhnya.
  16. Siksa kubur, mizan, telaga, syafa’at, dan tentang suatu kaum yang mereka keluar dari neraka, keluarnya Dajjal serta  rajam adalah benar.
  17. Ketahuilah !, jika kamu melihat seseorang yang mencintai Sufyan ats Tsauri, Malik bin Anas Imam darul Hijrah, Ayyub As Sikhtiyaaniy, Abdulloh bin ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, Sulaiman at Taimiy, Syarik bin Abdillah An Nakho’i Al Qoodiy Abu Abdillah, Abul Akhwash, Fudail bin ‘Iyad, Sufyan bin ‘Uyainah, Laits bin Sa’ad, Ibnul Mubarok, Waki’ bin Jarrah, Yahya bin Sa’is, Abdurrahman bin Mahdiy, Yahya bin Yahya, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih maka dia di atas jalan yang benar. Dan jika kamu melihat orang yang berkata bahwa mereka asy syakaak (ragu-ragu)[7] maka berhati-hatilah, karena dia berada di atas jalan yang benar. Jika dia berkata : Musyabihah[8], maka berhati-hatilah karena dia Jahmi, dan jika berkata mujbaroh[9], maka berhati-hatilah karena dia qodariy.
  18. Keimanan bertingkat-tingkat, iman itu perkataan, perbuatan dan niat. Shalat, zakat, haji, menghilangkan duri dari jalan bagian dari iman.
  19. Kami berpendapat : Manusia di sisi kami mumin dengan nama yang Alloh telah namai mereka.
  20. Kita tidak mengatakan haqqon[10] (sebenar-benarnya), ‘indalloh (di sisi Alloh)[11], dan tidak pula mengatakan beriman seperti Jibril dan Mikail, karena keimanan keduanya diterima.
  21. Dan tidak shalat dibelakang qodariy, rafidhiy, dan jahmiy.
  22. Orang yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan makhluk maka sungguh telah kafir : Surat Thooha : 14 :”Sesungguhnya Aku-lah Alloh, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. Alloh tidak memerintahkan Musa supaya dia beribadah kepada makhluk.
  23. Kami mengilmui bahwa Alloh di atas langit yang ketujuh, di atas ‘ArsyNya, sebagimana Alloh berfirman dalam surat Thooha : 5 dan 6 “Ar rahman di atas ‘Arsy istiwa, baginya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, serta yang ada diantara keduanya, dan yang dibawah tanah”.
  24. Surga dan neraka merupakan makhluk yang tidak fana.
  25. Shalat merupakan kewajiban dari Alloh, kewajiban dengan kesempurnaan ruku, sujud dan membaca di dalamnya.

 

 

           

****

Alih bahasa oleh al faqir : Abu Ayyub As Sundawiy

Ghofarohullohu wa wawalidaihi wa ajwaajihi wa aulaadihi.


[1] Syi’ar Ashabul Hadis , Abu Ahmad al Haakim (40-41) dengan sanad sahih. Imam Abu ‘Utsman Ash Shobuniy meriwayatkan sebagiannya pada kitab “Aqidah as Salaf Ashabil Hadis”. Demikian pula Al Laikaaiy dalam Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah mengutif sepenggalan perkataannya tatkala menyebutkan masalah ru-yah. Adz Dzahabi pun dalam Siar a’laam an Nubala meriwayatkan sepenggalannya tentang masalah ‘uluwillah (11/20), sebagimana beliau menyebutkannya pula dalam kitab al ‘Ulu h. 174 dari jalan Abu Ahmad al Haakim.

[2] Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim bin Mihran Abdulloh Abul ‘Abaas As Sirooj, mendengar Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Rahawaih dan selain keduanya. Meinggal  tahun 313 H (Tarikh Madinatil Islam/Tarikh Baghdad, karya Khatib Al Baghdadiy 2/56-62).

[3] Penomoran dari penerjemah.

[4] Jika kita menemukan masalah fiqih ke dalam pembahasan aqidah maka itu karena adanya kelompok sempalan yang menyelisihi ahlu sunnah dalam masalah tersebut.

[5] Maksudnya bila ternyata imam tersebut seorang yang fajir atau fasiq, maka tetap kamu berjihad bersmanya, kamu berjihad maka bgimu pahala jihadmu, sedangkan kefasikan pemimpin tersebut bagi dirinya sendiri.

[6] Ini hukum asal, selama dia seorang muslim maka kaum muslimin disyari’atkan untuk menshalati jeanazahnya.

[7] Julukan ini dilontarkan oleh orang murji’ah kepada ahlu sunnah, karena ahlu sunnah berpendapat bolehnya istitsna dalam iman, yakni perkataan : “Aku mu’min insya Alloh”, orang-orang Murji’ah menyangka bahwa istitsna mewajibkan syak/ragu. Padahal tatkala ahlu sunnah memandang bolehnya istitsna adalah istitsna adalah dalam kamalul iman (kesempurnaan iman). Adapun jika yang dimaksudkan dalam aslul iman (pokok iman [yang ia merupakan kadar ukuran terendah seseorang dikatakan beriman]), yang maksudnya ragu dalam keislamannya, maka ahlu sunnah pun sepakat tentang tidak bolehnya.

[8] Maksudnya kepada ahlu sunnah, termasuk kedalamnya para Imam yang disebutkan penulis.

[9] Maksudnya kepada ahlu sunnah, termasuk kedalamnya para Imam yang disebutkan penulis.

[10] Maksudnya kita tidak mengatakan : Mereka mu’minun haqqon.

[11] Yaitu tidak mengatakan bahwa mereka mu’min di sisi Alloh Ta’ala, namun mereka mencukupkan dengan yang Alloh menamakan mereka.

 

4 thoughts on “Aqidah Qutaibah bin Sa’id Ats Tsaqofi

  1. subhanaallah,,,,,,,hadzal kitab hana u liqolbi hina adzkuruhu,,,,,,,,,,,,,,,,,,mmmmmmmmmmmmmmmmmm khoirunnasi anfauhum linnas,,,,,,,,,,

  2. alhamdulillah kitab sangat membantu aku dalam memecahkan masalah dk pesantren ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  3. Assalamu’alaikum.
    Izin COPAS Ustadz.

    Syukran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s